Jeddah — Badan Gizi Nasional (BGN) berencana memperluas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke luar negeri dengan menjadikan Arab Saudi sebagai lokasi percontohan pertama. Program tersebut akan menyasar anak-anak pekerja migran Indonesia yang bersekolah di Sekolah Indonesia Jeddah dan Sekolah Indonesia Mekkah.
Kepala BGN Dadan Hindayana telah melakukan peninjauan ke dua sekolah tersebut untuk melihat kesiapan pelaksanaan program. Sekolah Indonesia Jeddah tercatat memiliki sekitar 1.080 siswa, sementara Sekolah Indonesia Mekkah menampung sekitar 400 siswa yang sebagian besar merupakan anak-anak warga negara Indonesia yang bekerja di Arab Saudi.
Menurut Dadan, wacana perluasan program MBG ke luar negeri muncul setelah adanya aspirasi dari para siswa yang berharap dapat memperoleh layanan makan bergizi seperti yang diterima pelajar di Indonesia.
BGN menilai anak-anak Indonesia yang tinggal di luar negeri tetap memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses terhadap pemenuhan gizi yang baik guna mendukung tumbuh kembang mereka.
Rencana tersebut saat ini masih menunggu persetujuan Presiden Prabowo Subianto. Jika mendapat persetujuan, Jeddah dan Mekkah akan menjadi wilayah pertama di luar Indonesia yang menjalankan program MBG melalui pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan sekolah.
Secara teknis, mekanisme pelaksanaan tidak jauh berbeda dengan yang diterapkan di Indonesia. Namun karena berlangsung di luar negeri, program tersebut membutuhkan koordinasi lintas kementerian, khususnya dengan Kementerian Luar Negeri serta Kementerian Pendidikan.
Meski demikian, tantangan utama yang dihadapi adalah persoalan pembiayaan. Tingginya harga bahan pangan di Arab Saudi membuat kebutuhan anggaran untuk menyediakan makanan bergizi bagi para siswa diperkirakan mencapai lebih dari Rp132 juta per hari.
Untuk mengatasi hal tersebut, BGN tidak hanya mengandalkan dukungan anggaran pemerintah, tetapi juga membuka peluang kerja sama dengan pengusaha Indonesia maupun donatur yang berada di Arab Saudi.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan manfaat program MBG dapat dirasakan oleh seluruh anak Indonesia, termasuk mereka yang tinggal di luar negeri bersama keluarga pekerja migran.
Apabila uji coba di Arab Saudi berjalan sesuai harapan, pemerintah berencana memperluas cakupan program ke negara lain yang memiliki populasi pekerja migran Indonesia dalam jumlah besar, salah satunya Malaysia.
Perluasan program MBG ke luar negeri sekaligus menjadi ujian baru bagi pemerintah dalam menjaga keberlanjutan program unggulan tersebut. Selain memastikan kualitas layanan dan kecukupan gizi, pemerintah juga dituntut mampu menyiapkan skema pendanaan yang efisien agar pelaksanaannya tidak membebani anggaran negara secara berlebihan.
