Sumaterapos — Pemerintah Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam membangun sistem perdagangan karbon hutan yang berintegritas tinggi di tingkat global. Komitmen tersebut disampaikan dalam forum bisnis internasional yang digelar di New York, Amerika Serikat, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan United Nations Forum on Forests (UNFF) 2026.
Dalam forum tersebut, Indonesia menekankan pentingnya tata kelola karbon hutan yang transparan, terukur, dapat diverifikasi, dan memiliki standar ilmiah yang kuat agar mampu dipercaya pasar internasional.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi hijau berbasis kehutanan. Dengan luas hutan tropis mencapai sekitar 120 juta hektare, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat investasi karbon dunia.
“Indonesia ingin memastikan bahwa perdagangan karbon tidak hanya menjadi peluang ekonomi, tetapi juga mampu menjaga kelestarian hutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya dalam forum tersebut.
Pemerintah juga terus memperkuat regulasi untuk mendukung perdagangan karbon sektor kehutanan. Salah satunya melalui penerbitan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 Tahun 2026 yang mengatur tata kelola perdagangan karbon agar sejalan dengan standar internasional, termasuk mekanisme Article 6 dalam Paris Agreement.
Selain perdagangan karbon, Indonesia turut mendorong pengembangan multiusaha kehutanan. Konsep ini mencakup berbagai sektor seperti jasa lingkungan, ekowisata, hasil hutan non-kayu, hingga pengembangan bioekonomi berkelanjutan yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.
Forum bisnis di New York tersebut juga menjadi ajang untuk menarik minat investor global terhadap sektor kehutanan Indonesia yang berkelanjutan. Pemerintah berharap investasi hijau dapat menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan.
Dukungan terhadap langkah pemerintah juga datang dari Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI). Organisasi tersebut menilai pembangunan karbon hutan berintegritas tinggi akan memperkuat posisi Indonesia dalam upaya penurunan emisi sekaligus membuka peluang ekonomi baru yang ramah lingkungan.
Dengan langkah ini, Indonesia menunjukkan keseriusannya dalam menjaga hutan tropis sekaligus memperkuat peran di pasar karbon global menuju pembangunan berkelanjutan.
