images 18

Rupiah Sentuh Rp 17.600, Dampak Terasa Di Harga Oli Dan Onderdil

Sumaterapos – Nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat terus menunjukkan tren pelemahan dan resmi menembus angka psikologis Rp17.600 pada perdagangan Jumat, 15 Mei 2026. Dalam sesi perdagangan tersebut, mata uang Indonesia sempat berada di posisi Rp17.614 per satu Dolar AS, melemah sekitar 0,48% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di angka Rp17.529.

Dampak langsung dari pelemahan ini mulai terasa di sektor perdagangan. Sejumlah barang kebutuhan yang mengandalkan bahan baku atau komponen dari luar negeri, seperti onderdil kendaraan bermotor dan oli pelumas, telah dipastikan mengalami kenaikan harga di pasaran. Hal ini terjadi karena biaya impor menjadi lebih mahal ketika nilai tukar mata uang domestik melemah terhadap mata uang asing.

Menanggapi kondisi ini, Presiden Prabowo Subianto tetap menyampaikan pandangan optimisnya terkait masa depan nilai tukar rupiah.

“Rupiah ini kita lihat berfluktuasi, namun saya yakin dan percaya rupiah akan kembali menguat karena fundamental ekonomi kita sangat kuat. Ekonomi Indonesia tumbuh stabil, cadangan devisa aman, dan pengelolaan keuangan negara terjaga dengan baik,” ujar Prabowo dalam pernyataannya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penjelasan lebih rinci mengenai penyebab pergerakan mata uang ini sekaligus menegaskan pembagian kewenangan dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

“Pelemahan rupiah ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, mulai dari penguatan Dolar AS secara global hingga ketidakpastian ekonomi dunia. Namun perlu disampaikan secara jelas, nilai tukar rupiah bukanlah ranah Kementerian Keuangan, melainkan merupakan tanggung jawab dan kewenangan penuh dari Bank Indonesia untuk menjaga kestabilannya,” tegas Purbaya.

Tekanan terhadap rupiah sendiri dipicu oleh beberapa faktor utama, antara lain kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang membuat investor lebih memilih aset berdenominasi Dolar, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang membuat harga komoditas dunia bergejolak.

Pengamat ekonomi memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Namun, sinergi antara kebijakan fiskal dari pemerintah dan kebijakan moneter dari Bank Indonesia diharapkan mampu menahan laju pelemahan lebih jauh dan menjaga inflasi tetap terkontrol.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *